Inilah Keunikan Dari Arsitektur Pura Meru yang Berada Di Lombok

Wisata —Rabu, 22 Sep 2021 14:01
    Bagikan  
Inilah Keunikan Dari Arsitektur Pura Meru yang Berada Di Lombok
Inilah Keunikan Dari Arsitektur Pura Meru yang Berada Di Lombok/Pinterest

MATA PANGANDARAN



Mengunjungi tempat yang memeluk nilai sejarah benar-benar mendebarkan hati dan pikiran. Mendebarkan? Maksudnya bagaimana, Mimin? Iyahh Sobat, mendebarkan karena kita seharusnya dituntut tahu dan paham apa makna dan simbol sejarah maupun pesan leluhur kita yang disampaikan melalui benda atau situs atau tempat yang bernilai sejarah tersebut. Salah satunya adalah Pura Meru di Lombok ini lho, Sobat!

Pura ini berlokasi tepatnya di tengah kota Mataram, yaitu di jalan Selaparang, kecamatan Cakranegara. Pura Meru juga sudah sangat terkenal sebagai pura yang terbesar di sana dan tertua di wilayah Lombok ini. Perlu Sobat ketahui, bahwa Pura Meru di Lombok ini sudah dibangun sejak tahun 1720 oleh seorang pangeran bernama Pangeran Anak Agung Made Larang, dan tujuan didirikannya Pura Meru ini tiada lain adalah untuk memuja dan tempat tinggal bagi tiga dewa yang menjadi keutamaan dalam hal peribadan umat Hindu di Indonesia. Tiada salah dan tiada bukan lagi, ketiga dewa-dewa itu adalah Dewa Brahma, kemudian ada Dewa Wishnu, serta ada Dewa Syiwa.

Tidak cukup untuk menghormati keeksistensian tiga dewa dalam ibadah umat Hindu saja, sebab nyatanya Pura Meru yang dibangun oleh pangeran tersebut juga turut serta merepresentasi gunung-gunung yang telah dianggap suci oleh para pemeluk umat Hindu, seperti halnya adalah ketika Pura Brahma diyakini telah mewakili atau merepresentasi Gunung Agung di Bali, lalu ada Pura Syiwa yang turut diyakini telah mewakili atau merepresentasi berdirinya Gunung Rinjani, serta tidak ketinggalan juga ada Pura Wshnu yang diwakili oleh Gunung Semeru di provinsi Jawa Timur. Uniknya nih ya Sobat dePost Lombok, bahwa hanya satu-satunya Pura Syiwa saja yang mempunyai atap susun 11, sedangkan untuk Pura Wishnu dan Pura Brahma hanya memiliki atap susun yang berjumlah sembilan saja. Hmmm, kenapa ya? Boleh ditanyakan ke empu setempat saat berkunjung besok ke Pura Meru-nya ya, Sobat Mata Pangandaran.


Baca juga: Tomyam Kuliner Kekenian Khas Thailand, Inilah Cara Membuatnya!

Baca juga: Resep Ayam Pedas Makanan Kekinian Ala Korea, Mudah!

Baca juga: Masih Kuat dengan Hal Mistis, Inilah 5 Pohon yang di Percaya Orang Sarangnya Hantu!

,

Nah, kalau berkunjung ke suatu tempat tentu kita harus tahu dong asal usual, atau nilai sejarah yang ditawarkan venue tersebut. Atau ya seenggaknya tahu apa arti dari bangunan atau nama tempat tersebut yang kita singgahi. Ini tiada lain dan tiada bukan untuk menjadikan nilai sejarah tersebut semakin dikenal oleh masyarakat luas dan kata pepatah juga, tak kenal maka tak cinta dong, dan tak cinta amka tak sayang. Hehehe, nampak kali Mimin nih kelebihan cinta, eh eh bercanda, Sobat.

Iya, jadi gini nih Sobat Mata Pangandaran, bahwa ternyata untuk kata ”Meru” itu sendiri diambil dari kependekannya nama Gunung Semeru lho, itu gunung yang berada di provinsi Jawa Timur. Nah, diyakini bahwa Pangeran Anak Agung itu dulunya masih keturunan dan Kerajaan Singasari yang berada tepatnya di daerah Jawa Timur. Dan oleh sebab Gunung Semeru yang kala itu sering dianggap sakral dan suci sekali oleh para leluhurnya, maka dari itulah pura tersebut diberi nama dan dipersingkatnya namanya menjadi Pura Meru. Hmm, unik ya Sobat! Hayoo, sebelumnya pasti belum tahu kan yaa, ngaku ah malu.

Nah, untuk upacara adat setempat biasanya itu ada acara untuk mengingat lahir kembalinya pura, jadi setiap pura di sana akan dihiasi tuh Sobat dengan aneka kain yang warnanya beda-beda. Pura Brahma biasanya akan dihiasi dengan warna merah yang melambangkan api. Api itu kan biasanya untuk menyimbolkan upacara kematian umat Hindu, yaitu kremasi menggunakan api. Lain lagi cerita untuk Pura Syiwa, yaitu pura ini akan dihiasi dengan kain putih sebagai simbol air untuk menyucikan abu dari hasil kremasi tadi, sebelum nantinya abu akan dibuang ke laut lepas oleh masyarakat. Dan untuk Pura Wishnu sendiri, ini tuh akan dihiasi dengan kain hitam yang menandakan tentang kegelapan atau ibaratnya sebuah kehidupan baru aygn akan lahir dan muncul setelah fase kematian. Duhh, bahas tentang kematian ini agak menyeramkan gimana gitu ya. Rasanya belum siap saja amal ibadah, huft.

Pastinya, Pura Meru buka setiap hati pukul 08.00 sampai 17.00 WITA ya, Sobat!


Yukk, jangan lupa berkunjung ke sini, abngga deh jadi warga Indonesia, kita kaya! Sudah seharusnya merawat dan menjaga kekayaan kita ya, Sobat!

Baca juga: SAMSUL MANUX, Inilah Kumpulan Karya Sajak Paling Menyayat Hati!

Baca juga: Resep Makanan Mudah! Cara Membuat Sambel Beberuk Terung Ciri Khas Lombok

Baca juga: Misteri Tuselak Hantu Lombok yang Mulai Terlupakan


SUMBER: DEPOSTMANDALIKA


Editor: Yudis
    Bagikan  

Berita Terkait